Feeds:
Pos
Komentar

Assalamu’alaikum

Alhamdullillah halaman ini bisa terwujud,
Semoga halaman berikutnya segera menyusul,
dan bisa ikut memarakkan kancah dunia maya yang
semakin ramai ini dengan hal-hal yang bermanfaat. Amin

Hari ini Selasa 9 Des’08 tepatnya 11 Dzulhijah 1428 H kami akan melakukan

lempar tiga jamarat yaitu Ula, Wustho dan aqobah.

Sehabis dhuhur ketika kami hendak turun dari bukit untuk melempar jumroh

di halangi oleh petugas makmab, katanya jangan sekarang karena jamarat

 sedang sangat penuh, memang ini waktu afdol untuk lempar jumroh, tapi

 karena dihalangi ya terpaksa kami kembali ke tenda dan kira-kira satu

 jam sesudahnya barulah kami berangkat ke jamarat lagi, tapi rupanya

 jama’ah dari maktab yang lain juga demikian, mereka menunda beberapa

 waktu untuk menunggu kepadatannya berkurang, yang terjadi justru

 saat kami sampai di jamarat kondisinya sedang sangat padat, tapi

 rupanya para petugas disana cekatan sehingga semua bisa

langsung diatasi dan meskipun padat tapi semua bisa berjalan dengan

 tertib dan lancar.

Rombongan kami diarahkan untuk lempar jumrah dari lantai dua, sehingga mau

nggak mau jalan yang kami lalui menanjak, suamiku aku lihat agak kelelahan

 waktu berjalan naik, tapi untuk minta bantuan ke aku rupanya nggak tega,

 jadilah dia minta ijin pegangan tangan ke teman jamaah yang lebih muda

 dan sehat.

Alhamdulillah kami bisa sampai jamarat dan melakukan lempar jumrah

 serta kembali ke tenda tanpa kurang suatu apa.

Malam hari kami sudah membereskan perlengkapan kami dan merapikan

 ke dalam ransel, karena tengah malam nanti akan diangkut kembali ke

 pondokan di Mekah supaya saat kami thowaf Ifadhoh tidak repot

 membawa bawaan.

Jam dua dini hari waktu Arab Saudi sebagian teman yang sedang

 uzur dan yang sedang berhalangan diantar melakukan lempar

jumrah dahulu untuk kemudian kembali ke Mekah sekalian membawa

 barang-barang kami, thowaf  ifadhohnya nanti setelah kondisinya

 memungkinkan.

Beberapa saat kemudian baru kami berangkat ke jamarat dan melakukan lempar jumrah

untuk terakhir kalinya,

Ya Allah inilah saat-saat terakhir kami berada di ARMINA,

saat-saat yang hanya ada pada waktu HAJI . . .

saat yang bertahun-tahun kami menanti,

saat yang tidak akan kami temui sekalipun kami melakukan UMRAH,

Ya Rabb panggil kami kembali kesini,

agar kami dapat bertemu lagi dengan saat penuh barokah ini.

Dengan berlinang air mata kami meninggalkan Mina untuk menuju Mekah dan melakukan

thowaf Ifadhoh. Sampai masjidil Haram kami melakukan sholat subuh kemudian thowaf

Ifadhoh dan sa’i.

setelah menyelesaikan itu suamiku langsung tahallul dengan mencukur habis

rambutnya, kusalami dia sambil tak kuasa menahan haru “semoga ibadah kita

diterima Allah. swt” ucapnya singkat, aku hanya bisa mengangguk dan berkata Amin.

Puji syukur tiada habisnya, karena Allah.swt benar-benar telah memberi kemudahan

kepada kami berdua selama menjalankan inti ibadah ini, suamiku yang biasanya

kalau lewat hari cuci darahnya akan lemas dan sesak nafas, kali ini kulihat

biasa-biasa saja, padahal sudah mundur dua hari dari jadwal yang biasanya . .

Subhanallah walhamdulillah walaillahaillallah wallahuakbar.

Dengan hati dan langkah yang ringan kami menuju terminal untuk kembali

ke pondokan.

“ya Rabb izinkan hamba berlama-lama menikmati rasa ini,

perasaan indah yang muncul karena rasa syukur, bahagia,

haru dan takjub akan kemurahan dan kemahabesaranMu”.

Ini bukan sembarang ungkapan, tapi benar-benar saya alami kebenarannya.

Salah satu masalah yang kerap dikeluhkan jamaah haji adalah antrian ketika

hendak menggunakan kamar mandi, terutama saat berada di Arafah dan Mina.

Ini terjadi karena memang pada saat itu seluruh jamaah berkumpul di satu

tempat dan jumlah KM yang terbatas.

Tapi Alhamdulillah hal ini relatif tidak pernah saya rasakan pada saat-

saat tersebut. Hal ini baru saya sadari ketika sudah pulang ke tanah air

dan mendapatkan pertanyaan tentang masalah ini.

Saat itulah saya baru mengingat-ingat kembali hari-hari saya selama di

Arafah dan Mina. Di Arafah saya 3 kali ke KM. Pertama ketika baru tiba,

karena masih pagi jadi belum ramai, kedua sesaat sebelum masuk waktu

wukuf, meskipun belum merasa batal dari wudhu saya, tapi untuk lebih yakin

saya berniat ambil wudhu dan sekalian buang air kecil. Meskipun ada teman

yang mengabarkan antrean KM sangat panjang, saya tetap ingin memperbarui

wudhu saya kalaupun tidak mungkin ke KM. Namun baru beberapa meter saya

berjalan, seorang ibu sepuh menyapa saya dan menanyakan apakah saya

 mau ke KM?  saya jawab  ” iya bu!”

” jalan aja lurus sampai ujung belok kiri, nanti disebelah kiri ada KM

yang tidak ramai ” katanya. Setelah mengucapkan terima kasih sayapun

berjalan mengikuti petunjuk ibu tersebut, meskipun saya sendirian dan

belum pernah ke KM yang dimaksud. Dan ternyata setelah melewati 2 KM

dengan antrean yang mengular, saya sampai KM yang dimaksud ibu tadi. Dan

Subhanallah benar kata ibu tadi disana ada 5 pintu KM yang bersih dengan

air yang mengucur deras dan yang melegakan disetiap pintu tidak lebih

dari 2 orang yang menunggu giliran, bahkan saya hanya menunggu 1 orang

didepan saya, Alhamdulillah. Ketika hal ini saya sampaikan ke teman-teman

ditenda mereka tidak percaya dan katanya ketika mereka kesana tempat

itupun sudah dipenuhi antrean seperti tempat lain. Dan yang ketiga saat

menunggu pemberangkatan ke Muzdalifah, inipun sudah tidak ramai karena

jamaah lain sudah sibuk dengan persiapan mereka masing-masing.

Lain lagi pengalaman di Mina, kondisi antrean KM di Mina tidak beda jauh

dengan di Arafah. Selalu mengular antreannya, karena itu saya sudah

meniatkan tidak akan mandi jika KM penuh. Kasihan yang antri dibelakang,

sebab mungkin ada yang ingin segera menggunakannya. Jadi perlengkapan

mandi hanya saya buat lap-lap saja. Tapi yang terjadi ternyata diluar

dugaan saya, hari kedua di Mina (tgl 11 Dzulhijah) siang menjelang waktu

dhuhur saya hendak ke KM sekedar untuk wudhu dan BAK. Karena antrian

sangat panjang saya pun berjalan ke tengah untuk melihat kondisi KM yang

lain, ternyata sama saja. Sesaat sebelum sampai KM paling ujung, saya

melihat seorang ibu yang sangat pucat dan lemas, saya dekati ibu itu dan

menanyakan kenapa? rupanya beliau menahan BAB dan karena antrian sangat

panjang beliau kembali mundur dan bersandar di dinding depan KM karena

sudah tidak kuat berdiri. Saya minta permisi jamaah yang antri di KM dekat

ibu tersebut untuk memberi kesempatan beliau duluan, ternyata tidak ada

yang mau mengalah, sampai ibu tersebut pingsan. Sayapun pergi mencari

bantuan untuk mengangkat ibu tersebut ke tenda timmedis yang ada didekat

KM itu.

Sekembali dari menggotong ibu tadi ke tenda timmedis, saya kembali mencari

KM yang antriannya tidak terlalu panjang dengan berjalan ketengah arena

antrian. Sampai di depan KM yang berada tepat ditengah, saya melihat tidak

ada satupun yang antri didepannya, padahal pintu KM itu agak terbuka

berarti tidak ada orang didalamnya, setelah tengok kiri kanan sayapun

bertanya kenapa tidak ada yang mau memakai KM ini? mereka bilang

“kalau ibu mau ya pakai aja”.

Akhirnya dengan agak heran saya memeriksa satu persatu kelengkapan KM

tersebut, mungkin ada yang enggak beres. Saya liat dalamnya, bersih,

kemudian saya coba krannya, dua-duanya mengucur deras, atau. . . mungkin

kuncinya bermasalah pikir saya, tapi ternyata tidak ada kelainan apapun,

maka setelah berdoa saya menggunakan KM itu untuk menyelesaikan semua

keperluan saya termasuk mandi yang tidak saya rencanakan, toh tidak ada

yang mau menggunakan KM ini, pikir saya. Selesai dengan urusan saya di KM

sayapun keluar, dan betapa terkejut karena sekarang didepan KM yang saya

pakaipun antrian sudah memanjang, karena itu setelah mengucap hamndalah

saya pun beristighfar, karena telah melanggar niat saya sendiri untuk

tidak berlama-lama menggunakan KM. Hanya itu yang terlintas dibenak saya,

tapi setelah kembali ketanah air dan mendapatkan pertanyaan tentang hal

ini, barulah saya menyadari bahwa

mungkin itu adalah balasan Allah karena saya telah menolong ibu

tadi, dan artinya Allah telah membayar tunai apa yang telah saya

lakukan dengan memudahkan urusan saya sesudahnya“. Allahu Akbar.

Lempar Jumroh Aqobah

Seluruh jamaah haji akan berada di Mina selama 3 hari (10, 11, 12 Dzulhijah)

untuk yang mengambil nafar awal dan 4 hari (10, 11, 12 dan 13 Dzulhijah )

 untuk jamaah yang mengambil nafar tsani. Rombongan kami sepakat untuk

 mengambil nafar awal. Lempar jumroh ( melempar batu sebagai simbolisasi

 setan) pertama yaitu jumroh Aqobah saja dilakukan sesaat setelah kami tiba

 di Mina, karena memang hal ini harus dilakukan sebelum jamaah melakukan

 ibadah yang lain setibanya di Mina, dan karena kami sudah sampai pada jam

01:00 WAS, maka setelah sejenak beristirahat meskipun bukan waktu afdol

 Habib langsung mengajak jamaah untuk lempar jumroh Aqobah. Aku sudah

 khawatir suamiku nggak kuat karena waktu akan menuju kemari saja naiknya

 sudah sangat payah, tapi waktu Habib menanyakan apakah kuat untuk

berjalan  lagi ke jamarat agar bisa selesai dulu kewajibannya dan bisa

 tahallul awal,  suamiku bilang kuat, maka segera kami menuju jamarat

 untuk melontar  jumroh Aqobah.

Setelah turun dari bukit tempat tenda kami berada, kami masih harus

berjalan kurang lebih 3 km untuk sampai jamarat, jadi pulang pergi

 kira-kira 6 km plus naik turun bukit, tapi alhamdulillah pagi itu tidak

 terlalu penuh baik dijalan maupun di jamaratnya, mungkin karena

 bukan waktu afdol (waktu afdonya setelah terbit matahari hingga tengah

 hari atau zawal tanggal 10 dzulhijah ), memang bagi kami yang lebih

 penting adalah sahnya suatu ibadah mengingat anggota rombongan yang

 kondisinya memang beragam, dari yang lanjut usia, yang sedang sakit,

 yang perlu bantuan kursi roda, dan lain-lain, meskipun banyak juga yang

masih muda-muda dan kuat. Akhirnya beberapa saat sebelum waktu

 subuh tiba kami menyelesaikan lempar jumroh Aqobah, dan dilanjutkan

 dengan memotong rambut sebagai kelengkapan tahallul awal kami.

 Dengan tahallul awal berarti jamaah telah diperbolehkan melakukan

 perbuatan yang sebelumnya dilarang karena berihrom, kecuali melakukan

 hubungan suami istri.

Sehabis sholat shubuh berjama’ah sebagian anggota rombongan kami

ada yang langsung menuju Mekah untuk melakukan thowaf Ifadhoh dan

 sa’i untuk menyelesaikan ibadah hajinya, namun harus tiba kembali

di Mina sebelum maghrib karena harus bermalam di Mina lagi, ini adalah

suatu pilihan yang lebih baik tidak kami ambil, karena resikonya sangat

 besar, selain kondisi badan sudah lelah, kendaraan untuk pergi ke Mekah

 dan kembali ke Mina pun tidak ada karena semua kendaraan penumpang

 dilarang masuk Mina selama pelaksanaan Haji ini. Habibpun sudah

mengingatkan jama’ahnya akan hal ini dan menyarankan agar thowaf

Ifadhohnya nanti tanggal 12 saja setelah selesai lempar jumrohnya.

 Jadi kami tetap tinggal di Mina untuk menyelesaikan melempar jumroh

 dahulu.Kenyataannya memang demikian, ada teman jamaah yang

pagi itu pergi ke Mekah untuk melakukan thowaf, karena memang tidak

ada kendaraan umum terpaksa mereka pulang pergi dengan menggunakan

ojeg. (ternyata di Mekah pun ada ojeg

rupanya).

M I N A

Tepat jam 24:00 WAS bus yang kami tumpangi meninggalkan Muzdalifah

 menuju Mina. Sepanjang jalan menuju ke tenda maktab kami, di hampir

setiap sudut tanah Mina aneka macam tenda berdiri dan dihuni jamaah-

jamaah dari berbagai negara, dan mungkin juga ada jamaah dari Indonesia

 yang melakukan haji mandiri maupun jamaah yang berangkat dari negara lain,

 karena untuk jamaah yang dikoordinir oleh Depag, sepengetahuan saya

seluruhnya  akan menempati tenda-tenda putih semi permanen yang

 memang sudah dipersiapkan  oleh pemerintah Arab Saudi.

Subhanallah, suatu pemandangan yang tidak pernah terbayangkan

 sebelumnya, terlihat dengan jelas disini, ditempat ini, betapa

 kemaha besaran Allah tercermin semua.

Aneka macam suku, bangsa, budaya, bahasa melebur jadi satu.

 Setelah bersama-sama wukuf di Arafah, kemudian secara serentak

 pula meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah dan sekarang

 dengan sarana yang bermacam-macam pula para jamaah

melakukan kemah di Mina ini untuk kemudian melakukan ritual

 ibadah yang sama pula yaitu melempar jumroh, dan semua ini

 semata-mata hanya mengharap ridhoNya.

Jarum jam belum menunjuk ke angka satu ketika kami tiba dikaki sebuah bukit,

yang berhiaskan tenda-tenda putih bersap-sap dan berderet-deret. 

 Memang bukit itu telah disulap menjadi suatu lahan perkemahan akbar.

 Setelah turun dari bus dan berjalan beberapa puluh meter, kami baru tahu

 bahwa ternyata tenda untuk rombongan kami berada diatas bukit tersebut,

 yaitu berada pada tingkat ke tiga dari deretan tenda-tenda tadi, sehingga

 untuk sampai ketempat tersebut kami harus melewati puluhan anak tangga

 terlebih dahulu, dan itu artinya kami harus turun dan naik tangga ini setiap

 kali akan melakukan lempar jumroh.

Saya sempat agak kecewa menghadapi semua ini, karena sebelumnya dengan

 adanya tanda RT (Resiko Tinggi) yang dibubuhkan pada buku kesehatan kami,

 dan juga pada jamaah lain yang memang perlu perhatian khusus, kami

 mengira akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari jamaah lain

yang tidak bertanda  RT. Yah minimal  tidak mendapat tempat yang

setinggi ini, tapi rupanya perkiraan saya salah dan mau nggak mau

 itulah tenda yang harus kami tempati.

 Lahauwla walla quwwata illa billahil aliyyil’adzim.

Perasaan kecewa saya berangsur sirna ketika menyadari tujuan kami

kemari dan melihat suami yang tetap semangat meskipun dalam kondisi

 seperti ini, segera saya beristighfar  lalu  pelan-pelan kami mulai naiki

 tangga-tangga tersebut dan karena kami paling akhir sampai di tenda,

 praktis tempat yang tersisa  adalah tepat didepan pintu tenda, sama

 seperti waktu di Arafah.  Tapi ternyata ini memberi berkah tersendiri

 bagi kami, karena pada waktu  malam ketika kondisi didalam tenda sangat

 dingin oleh AC, kami tinggal membuka sedikit pintu tenda, dan udara dari

 luar yang lebih hangat akan  masuk. Juga ketika siang hari saat kondisi

 didalam tenda panas, maka didepan pintu tenda menjadi kenikmatan

 tersendiri karena angin dari luar  berhembus semilir, Alhamdulillah.

Bermalam Di Muzdalifah

Selepas Maghrib tanggal 9 Dzulhijjah kami sudah bersiap-siap meninggalkan
Arafah untuk menuju Muzdalifah dan bermalam disana. Jarak Arafah ke
Muzdalifah sekitar 7 – 8 Km, dan jamaah Indonesia diangkut dengan bus
secara bolak-balik melalui jalur khusus, ini diistilahkan dengan sistem taraddudi.
Rombongan kami terangkut kira-kira pukul 20.00 WAS dan sesaat kemudian
sudah sampai di Muzdalifah.

Kami diturunkan di kawasan terbuka yang luas
dengan hamparan tikar plastik dan penerangan
lampu sorot dari berbagai penjuru yang terang
benderang dan berdaya ribuan kilowatt tentunya.
Disini juga ada ratusan atau mungkin ribuan toilet yang bersih dan airnya
melimpah ruah. Juga tersedia batu-batu kerikil seukuran kelereng yang
bisa kita ambil untuk persiapan melempar jumroh nanti. Meskipun sebelumnya
saya dan suami sudah menyiapkan batu-batu kerikil, tetapi melihat banyaknya
batu kerikil di tempat ini, kamipun mengambil beberapa lagi dengan niat mungkin
nanti ada orang lain yang memerlukan, (dan ternyata ini menjadi kenyataan).

Di Muzdalifah ini, selain mengumpulkan kerikil jamaah juga melakukan sholat
bagi yang belum saholat maghrib dan isya serta berdzikir, bertakbir,
memanjatkan pujian dan mengesakan Allah serta bermunajat pada Nya
minimal sampai lewat tengah malam.

Memang waktu singgah ditempat ini relatif sebentar, tapi kondisi alam
yang tandus disertai angin kencang yang menerpa langsung karena kita
berada dialam terbuka, menuntut jamaah harus siap fisik dan mental.
Apalagi untuk jamaah yang berusia lanjut dan yang kesehatannya kurang
bagus, tentunya hal ini merupakan ujian lain yang harus dihadapi juga.
Jam 23:45 WAS bus yang akan membawa rombongan kami datang,
maka kamipun kembali mengantri untuk masuk bus dan perlahan meninggalkan
muzdalifah menuju Mina.

Wukuf Di Arafah

Mungkin ini adalah hari terindah sepanjang hidupku, bertahun-tahun aku

berharap untuk bisa mendapatkan hari ini, ditempat ini, ya hari Arafah

hari dimana seluruh jama’ah haji dari seluruh dunia berkumpul di padang

Arafah dan itu hanya dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijah setiap tahunnya,

pun hanya antara saat tergelincirnya matahari hingga terbenamnya, betapa

singkatnya waktu itu namun berjuta-juta kaum muslimin dan muslimat

sangat berharap untuk bisa mendapatkan moment ini, sebab kalau umroh

boleh dibilang kapanpun waktu yang kita inginkan bisa terlaksana, namun

untuk haji waktunya tertentu, karena itu tidak heran kalau jama’ah dari

Indonesia harus rela menunggu sampai bertahun-tahun untuk bisa berangkat

haji meskipun mereka sudah punya bekal yang cukup.

Karena keterbatasan itu pula, begitu sampai di tempat ini sebuah doa

pengharapan langsung kupanjatkan :

        “Ya Allah betapa hamba sangat mendamba saat-saat ini,

         betapa hamba sangat berharap menyambut panggilanMu,

         tuk menjemput maghfiroh dan ridhoMu,

         yang telah Engkau janjikan akan terlimpah hari ini.

         karena itu mudahkanlah segala urusan hamba, jangan biarkan

         hal-hal yang tidak bermanfaat mengganggu kedekatan hamba

        denganMu, hamba ingin menghabiskan hari ini untuk membasuh

         segala dosa dan memohon dengan segala pinta.

         Kabulkan doaku ya Rabb”.

Itulah doa pertamaku sesaat sebelum fajar 9 Dzulhijah menjelang, dan

langsung diijabah olehNya, dengan memberikan berbagai kemudahan dalam

seharian itu, Alhamdulillah.

Pada festifal akbar ini Allah SWT membanggakan hambaNya yang sedang wukuf

di Arafah kepada para malaikat.

 “Hai malaikat-Ku! Apa balasan bagi hamba-Ku ini, ia bertasbih, bertahlil, bertakbir,  memuji-Ku dan   mengagungkan  Ku, serta ia bershalawat kepada Nabi-Ku. Wahai para malaikat saksikanlah, bahwasanya Aku  telah        mengampuninya,  Aku memberi syafaat (pertolongan) kepadanya. Jika hambaKu  memintanya  tentu   Kuberikan untuk semua yang wukuf di Arafah ini”

Subhanallah walhamdulillah walaillahaillallah wallahuakbar.

Ya, hari ini aku merasa Allah swt begitu dekat dan tak berpenghalang

sehingga membuat selalu ingin bersapa denganNya memohon maghfiroh dan

ridhoNya karena mungkin ada diantara dosa-dosa kita yang hanya bisa

diampunkan dengan wukuf di Arafah ini. Mengingat semua itu rasanya

jadi enggan untuk sejenakpun meninggalkan tempat ini. Meskipun hari

masih pagi, tapi rasanya sayang untuk melepaskan hari itu dengan

tanpa bermunajat padaNya. Sejenak aku menoleh kiri kanan terlihat

jamaah lainpun melakukan hal yang sama, mereka membaca Alqur’an,

berzikir, wirid atau melakukan sholat sunat, ada juga yang tidur

dan beristirahat mempersiapkan diri agar tidak ngantuk saat nanti

waktu wukuf tiba.

Tanpa terasa matahari mulai tergelincir ke tengah pertanda waktu wukuf

segera tiba, kami merapikan tenda untuk persiapan sholat berjamaah

dengan jamaah satu kloter, yaitu melaksanakan sholat dhuhur dan ashar

yang akan dilaksanakan dengan dijama’ dan qoshor

serta mendengarkan khotbah wukuf. Sebelumnya kami sempatkan saling

meminta maaf dengan teman, saudara dan terutama dengan suami / istri,

entah kenapa, ini membuat suasana semakin syahdu dan seakan kami semua

benar-benar akan memasuki padang Masyar menunggu panggilan untuk

dibacakan raport kita selama di dunia, dimana dalam penantian itu

kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi raport kita, apakah banyak

nilai merahnya yang akan menghantarkan kita ke neraka jahanam? ataukah

kita banyak mendapat ridhoNya sehingga nilai raport kita bagus dan

akan menjadi kunci buat kita untuk memasuki surgaNya?. Perasaan ini

terbawa hingga saat khatib membacakan khutbah dan mulai membaca

doa-doa wukuf, alunan doa menyeruak diantara isak tangis yang tertahan

dari para jama’ah.

Suasana ini berlangsung hingga khatib selesai memimpin doa dan para

jama’ah dipersilakan melanjutkan sendiri dengan doa-doa yang telah

dipersiapkan masing-masing. Karena waktu makan siang memang telah

lewat, maka banyak jama’ah yang keluar untuk makan siang terlebih

dahulu, ada juga yang keluar untuk kembali ketendanya masing-masing

dan melanjutkan ibadahnya disana. Suamiku mengajak untuk makan

siang dulu agar tidak masuk angin katanya. setelah sejenak terhenti

aku kembali keposisiku ditenda tersebut dan melanjutkan dzikir

dan do’aku, serta menyampaikan segala titipan doa dari teman-teman

dan sanak saudara, mumpung Allah sedang membuka pintuNya dan para

malaikatpun tengah turun dan berada dilangit terdekat dengan bumi,

semoga mereka turut mengaminkan doa-doa kita. Makin meredupnya

sengatan matahari diluar tenda, menyadarkan kami bahwa waktu wukuf

segera berakhir, artinya waktu afdol untuk berdoapun segera

berakhir pula. Terlihat ada beberapa jamaah yang berdoa diluar

tenda, tapi ada juga yang justru menggunakan waktu untuk berfoto-foto

dan naik unta, serta membeli oleh-oleh yang entah ada dimana

pedagangnya.

                   Ya Allah, siangMu segera hilang, dan malampun menjelang

                    izinkan hamba tetap dalam rasa ini, hangat dalam naunganMu,

                   bersimpuh diharibaanMu, tuk membasuh segala dosa dan noda,

                   serta menikmati jamuanMu.

                  Tuhan, dikala hamba tersesat, disepanjang lorong kehidupan

                  yang masih kan Kau berikan, bimbinglah hamba kembali,

                  kedalam jalan maghfirahMu, dengan Maha CahayaMu.

 

Sayup-sayup terdengar muazin mengumandangkan adzan maghrib,

pertanda waktu wukuf telah usai dan jamaah harus segera

meninggalkan Arafah untuk menuju Muzdalifah. Sambil menunggu

bis yang akan mengangkut kami datang, sebagian jamaah

melakukan sholat. Belum sampai seluruh jamaah terangkut

keluar dari Arafah, kami melihat tenda-tenda sudah mulai

dirobohkan dan dilipat, untuk memastikan sudah tidak ada

jamaah yang masih berada di Arafah saat tengah malam nanti.

Baru kira-kira jam 20:00 WAS bis yang membawa kami datang,

dan sambil mengucapkan selamat tinggal Arafah kamipun,

merayap meninggalkan Arafah untuk menuju Muzdalifah.

Hari Arafah akan jatuh pada hari Minggu tanggal 7 Desember 2008,

karena rangkaian ibadah Armina (Arafah, Muzdalifah, Mina) selama

4 hari ditambah 2 hari untuk keberangkatan dan pemulangan, serta

karena inti ibadah haji adalah saat itu, maka dari jauh-jauh hari

kami telah mempersiapkan diri dengan berbagai bekal baik fisik

maupun mental, diantaranya adalah :

1.  Memesan tempat untuk minta tambahan HD bagi suami agar di Armina

      nanti tidak perlu HD. Untuk itu meskipun hari Kamis pagi sudah

      melakukan cuci darah, pada hari jum’at malam dengan persetujuan

      dokter Zubaidah, suami kembali menjalani HD, tak lupa saya

      menanyakan kemungkinan terburuk jika nanti terpaksa harus HD

      di sana bagaimana, ternyata di Mina disiapkan juga tempat untuk

      HD, bahkan petugas dari Rs. Zahir inipun dikirim sebagian kesana.

      Prosesnya tentu saja sama dengan sebelumnya yaitu dengan lapor

      pada dokter kloter dan dokter sektor dulu baru nanti mereka yang

      akan mengurus ke tempat dimana HD bisa dilakukan.

2.   Selain menambah frekwensi HD, juga harus dipersiapkan obat-obatan

       yang harus diminum setiap hari, dan juga lauk kering yang masih

       ada dalam persediaan.

3.   Kami membawa bekal nasi kotak yang dibagikan beberapa waktu lalu,

       nasi ini tahan sampai kurang lebih 1 tahun, sekedar untuk jaga-jaga

       kalau ada masalah dengan catering selama di Mina dan arafah. Tak lupa

       kami bawa tikar plastik yang kami beli beberapa hari yang lalu.

       Kami juga membawa baju ganti yaitu sragam batik kafilah habib Idrus

       dan peralatan mandi sekedarnya, karena kami dianjurkan hanya membawa

        satu tas yaitu ransel hijau pembagian dari habib agar leluasa

        dalam menjalankan ibadah nanti karena tidak terbebani dengan barang

        bawaan yang merepotkan.

4.    Tanggal 8 dzulhijah sehari sebelum hari Arafah disebut hari tarwiyah

        atau hari pembekalan karena pada hari ini para calon jama’ah haji

        mempersiapkan diri dan mempersiapkan bekal untuk ibadah berikutnya,

        dulu jama’ah akan mengenyangkan diri dengan minum air, begitu juga

        dengan kami, jama’ah habib Idrus pun diminta mempersiapkan bekal.

        Tak lupa aku mempersiapkan segala macam do’a dan titipan do’a

       dari sanak saudara teman dan kerabat dengan merangkum nama-nama

       mereka serta do’a titipannya dalam sebuah notes kecil yang sengaja

       kupakai selama perjalanan ibadah hajiku ini agar mudah dibawa

       kemana-mana. Juga buku do’a dari depag dan Alqur’an kecil.

5.   Untuk jama’ah yang menunaikan haji tamattu’ disunatkan melakukan

       ihrom haji pada hari ini yaitu dengan mandi dan mengusapkan wewangian

      di tubuhnya kemudian mengenakan pakaian ihrom yakni tidak mengenakan

       kain yang berjahit, tapi ihram dengan selendang, kain dan sandal

       untuk jama’ah laki-laki.

       Adapun bagi wanita, maka hendaknya ia mandi dan menggunakan pakaian

       apa saja yang dikehendakinya dengan syarat tidak menampakkan

       perhiasannya, tidak memakai penutup muka, dan juga tidak memakai kaos

       tangan. Kemudian untuk jamaah yang akan melaksanakan ibadah di hari

       tarwiyah dengan bermalam di Mina, maka disunahkan berangkat sesudah

       subuh untuk kemudian melakukan sholat Dhuhur, Ashar, Magrib, Isya

       dan Shubuh pada hari berikutnya dengan di qoshor tanpa di jama’.

Namun Departemen Agama tidak menganjurkan Jamaah haji Indonesia

melaksanakan hari Tarwiyah, dengan pertimbangan perjalanan Mina-

Arafah cukup jauh, dan jalanan akan sangat padat baik oleh bis

maupun jamaah yang berjalan kaki, sehingga dikhawatirkan akan

terlambat tiba di Arafah, karena jika pada waktu pelaksanaan

Wukuf tidak berada di Arafah, maka hajinya batal atau tidak sah.

Sebab puncak ibadah haji adalah Wukuf di Arafah, dilanjutkan

ke Muzdalifah, dan lewat tengah malam ke Mina bermalam (mabit)

tiga malam bagi yang nafar sani, atau dua malam (nafar awal)

dan melempar jamarat.

Karena rombongan kami mengikuti aturan Depag dengan tidak melakukan

ibadah hari tarwiyah di Mina, maka pada hari Sabtu 7 Desember 2008

atau tanggal 8 Dzulhijah 1429 H, dengan persiapan bekal tersebut saat

malam menjelang kami bersama-sama melafalkan niat haji

“labbaik Allahumma hajjan”

(Aku penuhi panggilanMu ya Allah untuk menunaikan ibadah haji).

Kemudian dengan menggunakan bis kami berangkat menuju arafah dan lewat

tengah malam kami melintasi Mina serta tiba di arafah beberapa saat

menjelang pagi.